Mahasiswa IPB Jago Teknologi Informasi Dan Komunikasi

Mahasiswa IPB Jago Teknologi Informasi Dan Komunikasi

Tak hanya pintar di bidang pertanian, mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) juga jago di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Ini dibuktikan dua tim IPB, Cyber Security IPB (CSI) Oryza dan SIAP 16 berhasil menyabet medali emas serta perak di ajang Pagelaran Mahasiswa Nasional bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi atau Gemastik yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Tinggi (DIKTI), Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Republik Indonesia.

Tim CSI Oryza terdiri dari mahasiswa Departemen Ilmu Komputer, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ( FMIPA), yakniHerdian Nugraha, Gusti Bimo Marlawanto dan Fachrizal Oktavian. Sedangkan Tim SIAP 16 terdiri dari Yuandri Trisaputra, mahasiswa Departemen Ilmu Komputer FMIPA dan Oktarina Safar Nida, mahasiswa Departemen Statistik FMIPA.

Kegiatan final Gemastik yang diselenggarakan 27-28 Oktober di Universitas Gadjah Mada (UGM) ini terbagi dalam sembilan kategori perlombaan yakni pemrograman, pengembangan perangkat lunak, data mining, keamanan jaringan dan sistem informasi, animasi, piranti cerdas/embeded system, desain UX, pengembangan bisnis teknologi informasi komunikasi (TIK), dan pengembangan permainan. Jumlah total peserta yang mendaftar Gemastik 2015 ini sebanyak 3.074 tim dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia dan diseleksi melalui penyisihan secara online. Dari final terpilih 101 tim dari 27 perguruan tinggi.

Sementara khusus kategori keamanan jaringan dari 208 pendaftar, sepuluh tim dinyatakan lolos final diantaranya: Debauchery Tea Party Universitas Indonesia, MAVISANG Institut Teknologi Bandung, dotAVI Institut Teknologi Sepuluh Nopember, CSI Oryza IPB, Fast Affine Projection Universitas Indonesia, Dispynode Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Psycho Security Universitas Kristen Satya Wacana, Cplug.net Universitas Sumatera Utara, Ghost_In_The_Network Universitas Sumatera Utara dan Natrium Benzoat Universitas Tanjungpura. Demikian pula keberhasilan tim SIAP 16 IPB berhasil lolos final dari 300 peserta.

“Pertama kali kami tampil, kami merasa minder karena akan bertanding melawan institusi di bidang teknologi dibandingkan institusi kami yang berfokus ke pertanian. Namun kami berhasil membuktikan kami pun bisa,“ kata Herdian. Lomba terkait kemanan jaringan di Indonesia sebenarnya masih terhitung baru. Lomba kemanan jaringan di Indonesia mengikuti model kompetisi internasional di bidang Cyber Security (keamanan komputer dan internet secara luas). Model kompetisinya sendiri disebut Capture The Flag (CTF). CTF terdiri dari dua jenis yakni jeopardy style dan a ttack defense style.

Pada sesi final, lomba berbentuk kompetisi CTF attack defense style yang berlangsung selama enam jam. Dari sepuluh tim yang masuk sesi final masing-masing diberikan dua buah komputer, komputer pertama yaitu komputer server dan komputer kedua yaitu komputer yang digunakan untuk meretas server tim lawan. “Tiga jam pertama adalah waktu kami untuk mengamankan lima file yang disebut asset di dalam komputer server. Cara mengamankannya yaitu dengan melakukan perbaikan terhadap service dan program yang ada di dalam server agar tim lain tidak dapat meretas dan masuk ke dalam sistem kami. Tiga jam berikutnya yaitu waktu untuk melakukan peretasan kepada server tim lawan dengan tujuan mencuri asset mereka. Kami berhasil meretas dua server lawan dan memperoleh sepuluh asset dan tidak ada tim lawan yang berhasil meretas serta mengambil asset kami. Alhamdulillah, kondisi tersebut mengantarkan kami menjadi pemenang dan mendapat medali emas pada kompetisi tersebut,” papar Ketua Tim CSI, Herdian.

Hal senada dikatakan Yuandri, Ketua Tim SIAP 16 IPB peraih juara II atau medali perak, mereka berhasil lolos dalam enam tim terbaik yang harus mempersentasikan hasil pola yang didapat. “Kami menggunakan metode yang sudah sesuai dengan karakteristik data yang diberikan, sehingga model yang didapat mempunyai ketepatan baik. Selain itu, kami mendapatkan model tersebut dengan dua pendekatan yaitu pendekatan statistika dan pendekatan ilmu komputer,” ungkap Yuandri.

Leave a Reply